Kamis, 25 November 2010

Pasien Patah Tulang pun Pilih Pengobatan Alternatif



Setiap hari ratusan retak patah tulang dari Jakarta dan sekitarnya berobat ke tukang urut di sejumlah daerah di Pandeglang dan Lebak, Banten. Namun juga ada yang mendatangi pengobatan alternatif di Jalan Haji Naim, Cilandak, Jakarta Selatan. Soalnya, selain biayanya murah juga ada keyakinan yang tinggi akan metode pengobatan tradisional itu.
"Setiap hari rata-rata 10 pasien dari Jakarta berobat ke tempat saya ini," ujar Abah Ajus ketika berbincang di bengkel pengobatan alternatif yang dibukanya di Menes, Pandeglang, sejak beberapa tahun lalu.
"Kalau di tempat pengobatan saya ini, setiap hari malah bisa 300 pasien yang datang berobat. Mereka datang dari sekitar Jabodetabek dan sebagian dari luar daerah," kata Haji Hasan Basri, pemilik sekaligus tukang urut di tempat pengobatan tradisional Jalan Haji Nawi itu, pekan lalu.
Menurut Abah Ajus dan Hasan Basri, selain masalah biaya, kebanyakan pasien berobat ke tempat mereka karena percaya akan lebih cepat sembuh kalau diurut dengan cara tradisional daripada menjalani operasi di rumah sakit.
"Beberapa pasien yang pernah saya tanya mengaku lebih percaya ke sini daripada ke rumah sakit. Apalagi kami di sini tidak menetapkan tarif khusus kepada pasien, mereka memberi secara sukarela," kata Hasan Basri.
Di tempat pengobatan tradisional Haji Hasan Basri kini terdapat tujuh tukang urut. Dalam menangani pasien, mereka cukup menggunakan minyak ramuan, kapas, potongan bambu, perban elastis, dan perban putih.
Setelah proses pengurutan selesai, organ tubuh pasien yang mengalami retak atau patah itu dibalut kapas yang telah dicampur minyak ramuan, lalu disangga dengan bambu.
Setelah itu, bagian yang luka di pasien itu dibalut dengan perban elastis. "Alat yang kami pakai hanya itu, selain tangan ini dan doa permohonan kesembuhan kepada Tuhan," katanya.
Dia mengatakan, pasien yang telah selesai diurut biasanya diminta kembali lima hari kemudian untuk mengetahui perkembangan luka si pasien itu. "Lima hari setelah pengurutan pertama, kami sering meminta pasien untuk kembali lagi, untuk mengontrol perkembangannya apakah masih perlu diurut atau sudah sembuh," kata Hasan Basri, yang mengelola tempat pengobatan tradisional itu bersama empat saudaranya.
Sementara di tempat pengobatan Abah Ajus, pasien tidak diminta datang lagi diurut kalau sudah merasakan tidak sakit. "Soalnya, rata-rata saya mengurut sekali saja sudah sembuh. Memang saya beri ramuan dan ramuan itu harus dihabiskan. Selain mengurut, saya juga meminta bantuan Allah agar kemampuan saya mengurut bisa langsung menyembuhkan pasien yang tulangnya patah tebu," ujar Abah Ajus.
Sigit Adhie Septian, alumni IPB asal Rangkasbitung yang mengalami kecelakaan di Pluit (Jakarta) sehingga patah tulang di bagian pundak dan retak di tulang kaki kanan, mengaku baru sekali di urut Abah Ajus. "Tidak ada rasa sakit sama sekali. Anehnya, Abah Ajus yang seolah menderita sakit saat mengurut saya. Kini saya sudah bisa jalan dan pundak saya pun bisa digerakkan dengan normal. Aneh, tapi nyata," ujar Sigit.
Sirin dari Depok juga bercerita. "Waktu itu saya terjatuh saat kerja bangunan dan lengan saya patah. Atas saran seorang teman, saya berobat ke sini. Sekarang saya jatuh lagi untuk kedua kalinya. Karena dulu pernah membuktikan sendiri, makanya saya ke sini lagi," katanya.
Soal biaya pengobatan, Sirin mengaku tidak begitu keberatan karena masih bisa terjangkau. "Kalau dilihat dari parahnya luka, sebenarnya tidak begitu mahal. Biasanya, sekali berobat saya memasukkan uang ke kotak itu antara Rp 40.000 dan Rp 50.000," katanya sambil menunjukkan sebuah kotak kaca yang ada di dalam ruang pengobatan.
Sementara Atong, warga Kebayoran yang mengalami retak tulang lengan karena jatuh dari motor, mengatakan, dia baru pertama kali ke tempat pengobatan tradisional tersebut.
Ia memutuskan untuk berobat ke tempat itu karena sudah pernah membuktikan sendiri saat adiknya mengalami patah tangan beberapa tahun lalu.
"Adik saya pernah jatuh dari motor dan tangannya patah, waktu itu dia berobat ke sini dan dalam waktu satu setengah bulan sudah sembuh," katanya.
Senada dengan Atong, Siti Maisaroh, warga Pemalang, Jawa Tengah, mengatakan keponakannya yang patah kaki karena tertimpa pohon tumbang saat ini sudah mulai membaik.
"Sejak berobat ke sini lima hari lalu, kondisinya agak membaik. Padahal, waktu pertama jatuh dulu saya sempat dibawa ke rumah sakit dan katanya harus dioperasi. Karena biayanya mahal, akhirnya dia kami bawa ke sini," katanya. (CR Nurdin)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar